Masuk

Ingat Saya

Budaya Membaca, Membangun Sifat Kritis. tapi tinggal lah kenangan

Budaya Membaca, Membangun Sifat Kritis. tapi tinggal lah kenangan

Budaya Membaca, Membangun Sifat Kritis. tapi tinggal lah kenangan

Oleh : ali ba’amar

                                                      Membaca hanya sebuah kata kerja yang tak di kerjakan dan sekarang dianggap tak penting  oleh para pelajar atau pun imagesseorang mahasiswa. Padahal membaca adalah pekerjaan yang memiliki esensialitas, tetapi karena hasrat ingin melakukan dan berbuat itu rendah yang diakibatkan rasa malas atau pun tergilas modrenitas pada pikiran seorang mahasiswa akan menjadi sesuatu hal yang disrupsi.  membaca  memang menjadi permasalahan yang sangat krusial apabila tidak ada rasa kemauan secara fundamental pada setiap mahasiswa. kita melihat bahwasanya membaca adalah sebuah pekerjaan yang akan memberikan kontribusi yang sangat besar pada otak dalam perkembangan pola pikir dan membentuk cakrawala berpikir. BUNG KARNO, Presiden pertama Republik indonesia bisa menghabiskan waktu membaca hingga 10 jam per hari. Begitu penting nya membaca bagi Sukarno untuk mengantarkan Indonesia pada gerbang kemerdekaan.

Dunia ini berputar sudah ribuan tahun, manusia hidup juga sudah ribuan tahun. Begitu banyak ilmu yang berkembang untuk kehidupan manusia dalam mencapai Imparsialitas. Mahasiswa dari abad ke abad, dari pertama kali nya sebuah universitas yang di dirikan oleh Plato, mahasiswa adalah kaum intelektual dan kaum terdidik yang mengeyam pendidikan  yang mampu menginterpretasikan sebuah ide/gagasan dengan realisasi yang nyata secara ilmiah dengan bukti-bukti otentik yang rasional dan dapat orang lain pahami. Bukan hanya sekedar kata-kata atau pun sebuah retorika yang di dapat melalui pemikiran nya sendiri dan secara empiris, tanpa sebuah dasar landasan atau pun latar belakang  yang tidak jelas dalam interpretasiasi. Nyata nya saat ini mahasiswa bagaikan tong kosong nyaring bunyi nya yang menjadikan alat kekuatan status mahasiswa yang notaben nya adalah kaum intelektual,kaum terdidik, agent of change, agent of social control yang hanya di jadikan sebuah dogma-dogma yang mengarahkan pada kehancuran. Dimana seorang mahasiswa hanya bergerak secara pragmatis karena tak memiliki sebuah landasan dalam berpikir dan itu semua diakibatkan sebuah Budaya Membaca yang tinggal kenangan. Disisi lain mereka yang menghapuskan budaya membaca secara fundamental akan menjadi budak kapitalis karena ketidakmampuannya dalam mengembangkan pengetahuan untuk merealisasikan cita-cita nya sendiri dan orang banyak.

Optimalisasi antara sebuah teori dan praktek harus lah sinergis, walaupun sebuah pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup ini, tetapi bukan berarti kita harus menghapuskan budaya membaca itu. Albert Einstain seorang akedemisi dan penemu atau pun peneliti pernah berkata: “ jangan gunakan otakmu sebagai gudang fakta, tetapi gunakan otak mu untuk berpikir”. Perkataan ini membawakan kita untuk tetap membaca dan selau bergerak secara ilmiah dengan tidak menghapal tetapi memahami setiap bacaan dan tumbuh berkembang untuk berpikir dalam menciptakan pemikiran-pemikiran yang baru. Karena kehidupan ini bersifat konstruktif  dan bukan diskonstruktif seperti posmodrenisme..

Buku adalah ilmu yang usang, Otak adalah ilmu yang terus berkembang dan terbaharukan,

Bukan berarti Buku harus dihilangkan, tetapi tetap akan menjadi Acuan…!!!!!

 

Salam mahasiswa….

Dengan